Pada 2008 aku masuk Sekolah Menengah Atas atau SMA.
DIA adalah sesosok cewek cantik yang kukenal awal waktu itu. Pertemuanku dengan DIA bermula dari awal pendaftaran masuk SMA.
Pada waktu itu formulir pendaftaran sudah habis, jadi terpaksa harus memphotocopy ulang. Aku bingung harus meminjam punya siapa, punya teman-temanku sendiri sudah mereka isi.
Lalu, aku melihat DIA yang saat itu mau mengisi lembar formulir yang masih kosong. Aku pun spontan menghampirinya dan berkata “Maaf Jangan diisi dulu !”.
Dan Aku menghampirinya. “maaf ya aku cegat begitu saja !”, kataku.
“iya tidak apa-apa !” balasnya sambil tersenyum manis.

Sedikit bicara dan memperkenalkan diri, aku pun meminjam formulir pendaftaran punya DIA, gadis manis itu.

***

Sungguh suatu kebetulan aku satu kelas dengannya. Hari demi hari sekolah, ku jalani. Aku mulai sedikit mengenal sosok DIA yang duduk disebrang samping kananku.
DIA gadis yang sholehah, sedikit pemalu, smart, mudah bergaul, ramah, sopan dan juga fasih dalam membaca Al-qur’an.

Hampir setiap acara yang melibatkan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dia yang dipilih untuk melantunkannya. Sungguh perempuan muda yang sempurna.

***

1 tahun di SMA dan naik ke kelas 2. Waktu dimana penentuan untuk mengambil jurusan. Aku bingung memilih IPA atau IPS. Ku akui kemampuan ku terbatas, aku bukanlah orang yang pintar. Akhirnya, aku memilih IPA. Kulihat daftar nama peserta IPA dan ternyata terpampang nama DIA. Sungguh keputusan bagus yang dia ambil, mengingat dia pintar dalam ilmu kimia dan fisiki, “fikirku.

Karena kecantikan dan tingkah lakunya yang baik, wajar banyak laki-laki yang menginginkan untuk mejadi pacarnya termasuk teman baikku. Berbeda dengan aku yang hanya menganggapnya sebagai teman baik dan tidak ada niat untuk menjadikannya kekasihku.

***

satu bulan berlalu, tanpa ku ketahui ternyata dia menjalin cinta dengan temanku. Tapi aku acuh. “selamat sobat, kamu telah mendapatkan hatinya, ! “kataku. “ah kamu bisa aja,” ! ,jawabnya.Akhirnya,aku pun memutuskan untuk pindah jurusan,yaitu pergi ke IPS untuk membuang rasa sakit hatiku ke DIA.

Kalau biasanya aku pulang berbarengan dengan temanku, namun itu tidak lagi.Temanku harus mengantar DIA dulu baru dia bisa pulang. Sungguh kemesraan yang indah namun tidak melenceng dari jalan Allah.

Rasa cemburu pun menghampiri. Hari demi hari rasa cemburu makin besar. Sosok DIA mulai melekat dalam fikiranku. Tapi aku sadar, aku tidak boleh meluapkan rasa cemburu dan suka ku kepada DIA, mengingat dia adalah pacar temanku. Biarlah tersimpan dalam lubuk hati.

***

satu setengah tahun berlalu, tak terasa ujian akhir nasional sudah di depan mata, cuma tinggal 1 bulan.

Ditengah-ditengah kesibukan masing-masing siswa mempersiapkan bekal menghadapi UAN, terjadi pertengkaran antara DIA dan pacarnya. Entah apa sebabnya, aku juga tidak tahu.
“Kenapa ? , kamu bertengkar dengan DIA ya , memang ada masalah apa ?, “aku bertanya kepada temanku. Namun temanku hanya diam, akupun tidak berani lagi untuk bertanya. Aku tinggalkan dia sendirian.
“mungkin dia butuh waktu untuk sediri !” fikirku.

Dua hari bertengkar DIA dan temanku pun putus. Ini sebuah kesempatan untuk aku mengutarakan perasaanku. Namun aku tidak mau cepat, takut disangka apa-apa oleh temanku.

***

Selama 3 minggu setelah putus dengan temanku. DIA begitu akrab denganku, segala sesuatu yang dia butuh pertolongan untuk melakukannya, selalu minta tolong denganku. Begitu juga ketika sedang berkumpul dengan teman-teman, selalu maunya duduk disampingku. Terbesit dalam benakku “Apa yang terjadi dengan DIA, apakah dia juga suka denganku ?”. Ah entahlah, mungkin cuma angan-anganku.
Hari ke-20 setelah putusnya DIA dengan temanku. Pagi Di depan pintu, sebelum masuk kelas. Aku menghampiri DIA, untuk sekedar mengobrol. Kami bicara banyak tentang pelajaran dan sebagainya.
Namun, Karena asiknya bicara, tidak disangka pembicaraanku telah berlalu setengah jam. Aku terbawa suasana, hatiku senang meluap-luap tiada terbendung. Saatnya sedikit aku mengutarakan perasaanku. Ketika mau berucap kalau aku suka dia, tiba-tiba dia memberikan pertanyaan
“ngomong-ngomong D(initial) itu gimana orangnya ?, (D teman satu kampungku). Aku bingung kok dia menanyakan si D, “emangnya kenapa ?’ jawabku.
“nggak, kemarin dia nembak aku, tapi aku masih bingung mau jawab iya atau tidak.” balasnya.

Bangunan beton yang telah utuh kini kembali retak. Namun karena D memang orang yang baik, aku ceritakan kebaikannya kepada DIA, meskipun hatiku sakit. Aku tidak mau terlalu terlena dalam kesedihan dan sakit hatiku. UAN di depan mata, aku tidak mau gagal hanya karena tidak bisa mendapatkan hati DIA. Fikirku, mungkin tidak sekarang aku mendapatkan hatinya.

***

Dua hari berlalu,DIA pun akhirnya jadian dengan D. Dan selama 2 minggu ku menjalani UAN, Alhamdulillah dengan jerih payahku belajar akhirnya Aku lulus juga. Begitu pun dengan DIA.

Berselang 1 setengah bulan sehabis pengumuman kelulusan, waktunya mengambil ijazah. Aku berharap bisa bertemu dengan DIA. Namun harapanku nihil, ternya dia tidak hadir karena kerumah pamannya. 95% semangat ku hilang. Tapi biarlah mungkin lain waktu bisa bertemu”, kataku dalam hati dengan rawut wajah sedih.

***

Ku dengar kabar, katanya DIA mau kuliah di Palangkaraya. Untuk menuntut ilmu ke jenjang yang lebih tinggi. Berbeda dengan aku yang termasuk golongan kelas bawah yang tidak mungkin rasanya untuk meneruskan kuliah.

Harapanku untuk bertemu dia pun sangat tipis ketika aku memutuskan untuk kerja di kampungku saja. Namun hanya sebagai tukang galon.

Hari demi hari berlalu, 1 bulan berganti, tak terasa sudah 1 tahun lebih aku kerja di sini. Terfikir dalam benakku untuk menghubungi DIA. Namun, nomornya sudah tidak aktif. Ku coba memberanikan diri meminta nomor handphone DIA dengan D. Namun, D juga sudah tidak punya nomor handphone DIA. Tenyata hubungannya dengan DIA sudah berakhir. Dan pangkalnya adalah karena D ketahuan selingkuh. D Cerita banyak tentang DIA, dan D juga menyesal telah membuat D sakit hati. Tapi nasi sudah menjadi bubur.

Harapanku pun semakin pudar. Rasanya tak ada lagi kesempatan untuk aku bertemu dengannya bahkan untuk mendengar sedikit suara halus dari mulutnya.

***

Dan karena alasan tertentu, Aku berhenti kerja di kampungku

***

Hari-hari berlalu, akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke Palangkaraya, dengan tujuan untuk bekerja di sebuah Expedisi pengiriman barang sebagai kuli angkut, dan dengan harapan agar bisa bertemu dengan DIA yang saat ini sedang kuliah disana.
Namun sampai sekarang, setelah bekerja selama satu bulan, aku belum juga bisa bertemu dengannya. Impian tinggal impian, Aku bingung bagaimana caranya aku bisa bertemu dengannya. Nomor handphonenya pun Aku tidak punya apalagi untuk tahu tempat tinggalnya yang sekarang.
Apakah suatu saat nanti aku bisa bertemu dengannya dan menyatakan perasaanku ? . Mungkin hanya Allah yang bisa mejawab. Jika jodoh mungkin aku akan bertemu dengannya lagi….!

# TO BE CONTINUED #

Image

Iklan